Minggu, 31 Agustus 2014

SYI'IR TANPO WATON







Setiap
manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas
ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi.
Semakin keras berkemauan, semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi
orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.

Jangan
remehkan siasat sesuatu yang (tampak) lemah. Terkadang, ular ganas mati oleh
racun kalajengking. Ternyata, burung Hudhud sanggup menumbangkan singgasana
ratu Bulqis, dan liang tikus mampu meruntuhkan bangunan kokoh.

Sudah
menjadi tabiat waktu, membahagiakan satu pihak akan menyedihkan pihak lainnya.

Begitulah
waktu menentukan takdir untuk penghuninya (manusia). Musibah bagi sekelompok
orang adalah keberuntungan bagi kelompok lain. Aku sudah mafhum dengan kelakuan
zaman yang sekilas ini: keburukannya merupakan kritik, sedangkan kebaikannya
hanyalah janji.

Ketika
debu kavaleri berhamburan, aku justru menghirup keharuman yang melampaui wangi
kemenyan. Semir mata pedang dan gelas-gelas di meja rapatku pun menjelma
tengkorak para pembesar (musuh) yang rakus kejayaan.

Semoga
Allah melimpahkan kebaikan pada setiap manusia yang belum saling sayang dan
saling kenal. Tak pernah aku mengeluh dan diterpa kesulitan kecuali dari orang
yang sudah aku kenal.

Saat
bunda melahirkanmu, engkau menangis, sementara orang-orang sekeliling
menyambutmu dengan tawa gembira. Berjuanglah, hingga saat mautmu tiba, mereka
manangis, sementara engkau tertawa ria.



(Kutipan
pernyataan Kyai Haji Abdul Wahid Hasjim
dalam
buku berjudul “Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama”)

Sabtu, 26 Mei 2012

HAI KAMU !

Oleh : W.S. Rendra

Luka-luka di dalam lembaga,

intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,

noda di dalam pergaulan antar manusia,

duduk di dalam kemacetan angan-angan.


Aku berontak dengan memandang cakrawala.

Jari-jari waktu menggamitku.

Aku menyimak kepada arus kali.

Lagu margasatwa agak mereda.

Indahnya ketenangan turun ke hatiku.

Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.

Jakarta, 29 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

Rabu, 29 Februari 2012

KRAWANG-BEKASI


Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

MENUJU REVOLUSI SOSIALIS 2020


"Bung Karno, kami pejalan panjang dari revolusi ke jalan revolusi dan
hati tiada henti mendukung cita-cita rakyat indonesia, meski malam jemu
menutup mata seluruh manusia."

ANTARA LANGIT DAN BUMI

Sebuah kidung cinta untuk anakku.

Oleh : Kulyubi Ismangun

anakku,
belajar itu sejak dari ayunan
hingga liang kubur...
belajarlah meskipun harus sampai ke negeri Iran...

anakku,
belajarlah agar engkau tau
ketahuilah apa yang kau pelajari
agar kau paham...

anakku,
pahami baik-baik yang kau pelajari
agar kau mengerti
mengertilah dengan benar apa yang kau pahami,
agar kau yakin...

anakku,
yakinilah dengan sungguh yang kau pahami dengan benar
agar kau tidak tersesat jalan hidupmu,

anakku,
meskipun langit itu sangat luas,
tak ada tempat untuk secuil kesalahan

anakku,
meskipun bumi itu tidak seluas langit,
selalu ada tempat untuk perubahan,
selalu ada waktu untuk saling menyayangi,
selalu ada kekuatan untuk membangun surga di bumi

anakku,
tidak semua gelap itu hitam,
dan tidak semua yang terang itu putih,
setiap kekurangan adalah bagian dari kesempurnaan itu sendiri

anakku,
manusia itu ada tiga macam,
manusia yang berpikir,
manusia yang berbicara,
dan manusia yang bertindak

anakku,
sepandai dan sebijak apapun seseorang,
kalau hanya diam berpikir,
atau hanya sibuk berbicara,
tanpa berbuat tidak akan pernah ada perubahan

anakku,
berdoa, berusaha dan berharap itu selalu untuk yang terbaik,
dam bersiaplah selalu untuk yang terburuk..

anakku,
kiranya itulah kidung untukmu,
isilah kemerdekaan dengan cinta,
penuhilah hari-harimu dengan kegembiraan menanam kebaikan,
sebab dengan itu kau tebarkan cahaya-Nya dalah hidupmu selamanya.

Senin, 04 Januari 2010

BALADA RAKYAT INDONESIA



I

senjata ini kami lepaskan setelah pertarungan matimatian, Bung Karno
karena cita-cita menyela pada hati dibakar perjanjian demi perjanjian
kami patuh dan setia dengan keyakinan penuh harap
karena cita-cita ini tidak pernah pudar pada asap dan kertas putih
kami tinggalkan hutan yang menyanyi tiap pagi
ketika kami diburu dan kota habis dihangusi
kami ungsikan diri, Bung Karno
bukan karena mati dan ketakutan tapi lentera pada hati menyala menyimpan cita-cita
ratusan kami berbaris menghadang musuh dengan bambu yang begitu setia
berbanjar seperti benteng tiada terkalahkan
ribuan kami mandi darah di atas tanah kesayangan, karena setia, karena cita-cita mulia

ketika laras kami berdebu di kota-kota
dan tapak kaki-kaki ini belah-belah karena tiada alas
rupa dan wajah kami tiada pernah mengharap karena cita-cita masih
terdukung di berat punggung
kami lantangkan suara meski parau mendekam
kami nyanyikan kemenangan meski ini kekalahan yang dipaksakan
kami teriakkan perlawanan ini suatu permulaan kesyahduan

kami baris, Bung Karno
pada tangan-tangan kurus tiada berdenyut nadi
sepanjang kota rakyat menanti kemerdekaan dan cita-cita
dan kami terus berbaris, kami terus menghentakkan kaki
meski di sisi rakyat membakar cita-cita karena kesetiaan belum nyata
kami jelajahi kota, kami masuki desa, Bung Karno
karena Indonesia, karena cita-cita kita bersama

senjata ini di depanmu kami jamah tanda hormat dan kasih kita
di penghabisan kali karena kami harus menyisih dari barisan senjata
kami bukan orangnya yang mendendam dengan senjata dan penembakan
kami bukan orangnya sisa-sisa pertempuran yang mengharap balas dan bintang jasa
kami bukan pejuang yang didaftarkan di satu kementerian
tapi kami penjelajah hutan ketika revolusi, penggempur kota dan pendukung
setia cita-cita kemakmuran bangsa

inilah kami Bung Karno
yang setia ketika tiada malam dan kelam dalam diri dan hari depan
kami yang masih merayap di kaki bukit ramamandala, di hutan-hutan kerinci,
kuningan dan bolangmangondow
ya, kamilah Bung Karno yang mengharap merek tapi tiada bertanda

dulu kami lepaskan senjata karena kami setia pada cita-cita rakyat
kini kami ditumpas lepas hanya pegangan pada hati
mungkinkah sembilu penghabisan menyayat cita-cita ini bila
keganasan gerombolan mengerkah cita-cita merdeka?

Bung Karno, usang sudah cita-cita ini bila kemenangan tiada di hati kami
remuk dan musnah rumah kampung halaman kami dan istri harus mati
bertekuk di kebiadaban gerombolan sedang kami harus lari
menghindar diri demi merdeka dan cita-cita
adakah yang lebih pahit dari ini Bung Karno, bila napas yang sisa ini
menumpas setiap keganasan, kebuasan, tapi di musim damai kami didera—
disiksa oleh sisa-sisa gerombolan dan hidup merungkak di tanah
berbatu? atau mengharap perintah dari tangan yang tiada pernah berlaga?

ya, Bung Karno, senjata ini kami serahkan demi cita-cita bangsa
tapi padamu Bung Karno, tiada pada siapapun


II

kami harus menekan tumpas karena derita masih menyala
memanggang diri dan airmata
kami harus menekukkan kepala karena hati cinta nusa masih membakar
diri sedang punggung berat membebani cita-cita
kami tidak meminta, Bung Karno, karena kami manusia perjuangan
kami tidak mengharap, Bung Karno, karena kami manusia kerja
tapi kami menuntut, Bung Karno, karena jiwa kami terancam gerombolan dan
hati ini pedih ditindas modal asing
juga kami mati akan setia dan kemegahan demokrasi, Bung Karno,
karena apalah arti cita-cita yang menyala ini andai suara tersumbat
dan tangan kaku di atas kertas putih

Bung Karno, padamu kami dukungkan cita-cita kami sejak revolusi dulu
karena tanpa cita-cita ini kita bukan apapun di bumi Indonesia
ketika ini padamu pimpinan kami serahkan tapi bukan pada siapa-siapa


III

ketika meriam menggelegar 21 kali di kemayoran
senja memisahkan kami, pendukungmu, Bung Karno—
dari istanamu yang putih mengapur
tapi suara dan teriak kami menggelegar memecah senja lebih keras
dari meriam, Bung Karno, meski saat itu kita disisihkan dalam senja
kami menanti dengan hati bukan dengan senjata dan meriam karena senjata
telah kami serahkan ketika revolusi dan setia kembali ke desa
sedang di hati cita-cita ini lebih tajam dari senjata, juga lebih indah dari istana
Bung Karno, kami menanti di depan istana, tapi kita berpisah
karena senjata di depan kami
kami tahu Bung Karno, seperti kau pun tahu bahwa batas kita ini
hanya sementara, bahwa pemisahan kita hanya seketika apakah
yang lebih abadi selain cita-cita, Bung Karno
karena kami pun percaya seperti kau juga mengerti bahwa meriam bisa diam
kalau hati bersusun satu, Bung Karno, tapi imperialisme dunia pun
bisa hancur bila kami pendukung setia cita-cita bangsa

di bawah kesamaran senja dan lampu-lampu, Bung Karno, wajahmu menyala
setelah dua bulan kita berpisah
jauh jarak pengharapan hati ini, Bung Karno
tapi kami tetap setia

suaramu yang kami nantikan seperti apa yang diharapkan hati ini Bung Karno
ucapan yang melaut di hati dan benak kami, mencatat kemenangan, karena
kita berkisar di satu arah di mana dulu kita pernah mengalah
kita kembali ke jalan lama di mana revolusi menuntut kemenangan
dengan senjata cita-cita yang abadi, kemerdekaan, kebebasan, dan kemakmuran
teriakmu naik ke langit malam dan di bintang menyatu diri
kami penanti, Bung Karno, dan suaramu suara kami kembali ke jalan


IV

berhari kita berkira dalam diri dan cita-cita lautan kemegahan
dan keadilan rakyat Indonesia
ke manakah arah angin kan bertiup bila lentera di tanganmu, Bung Karno,
kami satukan langkah, bila napasmu menapasi hati kami
kami sediakan diri, Bung Karno, andai derita dan kepahitan kita dukung bersama
Bung Karno, mimpi kami tidaklah seindah hati dan cita-cita kami
karena berat badan tiada terungkai andai kami terus dirangsang ketakutan
diburu kehancuran, dalam tangan cita-cita demokrasi
tapi kami percaya, Bung Karno, meski cita-cita ini diperam, ia pasti lebih membaja
lebih menyala dari bintang-bintang, tapi juga lebih menggelegar dari meriam
Bung Karno, atasmu cita-cita ini kami serahkan, tapi cita-cita ini
adalah milik kita, Bung Karno
kebenaran cita-cita akan menggaris dalam sejarah, siapa yang setia
dialah pemenang, Bung Karno

Bung Karno, kami pejalan panjang dari revolusi ke jalan revolusi dan
hati tiada henti mendukung cita-cita rakyat indonesia, meski malam jemu
menutup mata seluruh manusia